Sweet Memory

My dear friend,

hari Minggoe tanggal tiga poeloeh boelan September tahoen 2007, aku kunjungi Museum Bank Indonesia...ini cerita mengenai museum itu....

De Javasche Bank, yang kini sudah berubah menjadi Bank Indonesia, memiliki kisah perjalanan yang panjang. Gedung museum yang sekarang bercokol di Jakarta Kotapun, telah berubah fungsi menjadi Museum Bank Indonesia. Mari kenali riwayatnya.

Pada djeman dahoeloe kala, di locatie ini gedong dimangpa'atken sebagi ziekenhuis (ziek = sakit, huis = rumah; makanya sekarang kita mengenal istilah: Rumah Sakit). dengen seboetan jang bekend pada itoe tempo: Binnen Hospitaal. Ini gedong kali pertama digoenaken oleh De Javasche Bank pada tanggal 8 April 1828. Kamodian pada tahon 1910 sasoedahnja menempati gedong toea bekas ziekenhuis, lantas De Javasche Bank bikin rentjana pembangoenan jang dikerdjakennja oleh Bereau Architect “Ed. Cuypers & Hulswit” sebanjak lima tahap, ia itoe: 1910, 1922 en 1924, 1933, jang paling achir 1935, hingga gedongnja nampak tjiamik sekarang.

Yah ! gedong ini sekarang menjadi Museum Bank Indonesia. sebuah museum yang modern, canggih dan nyenengin. Gimana enggak? baru masuk di bagian depan aja udah kerasa atmosfir jadulnya, blom lagi pas belok kanan, dengan penjelasan yang okeh punya, lagi bisa dibaca tulisannya dengan sangat jelas, udah gitu pas masuk ke arah Ruang Teater, kita bisa menangkap uang logam yang melayang di tembok (dduh gimana bisa sih? nah mendingan lu buktiin aja dah!), begitu uang logamnya ketangkep, maka dia akan memberikan penjelasan (nah makin bingung deh cerita gue ini!), pokoknya nih museum keren dah, beneran kayak di luar negeri! hehehe..

udah gitu abis nonton pelem tentang sejarah gedung ini, kita bisa melihat banyak
sekali koleksi di museum ini, termasuk Peta Kepulauan Nusantara di djaman doeloe tatkala para pelaut asing masih mengira-ngira gimana bentuk pulaunya, yah gituu deh peta tahun jebot yang masih amburadul gambarnya, tapi keren euy, sumpah!

Jalan sedikit agak ke dalem, kita masuk ke Ruang Numismatik. Memahami sekaligus mengenal uang-uang yang beredar di Nusantara selama ini, dari jaman kerajaaan, VOC, Hindia-Belanda, pendudukan Jepang 1942-1945, hingga jaman kemerdekaan.

Udah gitu yang lebih menarik lagi, kitaorang bisa bisa masuk ke ruangan yang lebih keren lagi, menyaksikan uang-uang dari kerajaan yang berkuasa di Nusantara pada jaman dahulu kala, seperti Uang Ma (atau disebut juga Masa) dari beberapa kerajaan seperti: Mataram, Majapahit, Kediri, Samudera Pasai. Uang ini terbuat dari emas atau perak (wwwuuiih asik banget nih kalo punya uang ini di celengan kita. Hah? Celengan? udah pada tau kan celengan tuh adalah tempat menabung berbentuk celeng, trus kalo menabung? yah.. berasal dari kata Tabung. doeloe orang-orang menyimpang duitnya di tabung bambu, mungkin sebelom jaman orang menyimpan duit di bawah bantal :)

Juga ada Uang Gobog dari Kerajaan Majapahit yang berfungsi sebagai Jimat, dan yg dari Kerajaan Banten yang uangnya berfungsi sebagai Jimat Cinta, aduhaaaiiii....

Trus, trus, trus, ada lagi nih uang yang disebut: Uang Kampua, yang berwujud kain tenun, yang dijahit oleh putri-putri Kerajaan Buton pada sekitar abad ke-14. Kain tenun ini setiap tahunnya dibuat dengan motif berbeda, hal ini dilakukan untuk menghindari pemalsuan (duh, jaman dulu aja udah ada pemalsuan) Penggunaaan uang yang berwujud kain tenun ini ada di pada saat perintahan Ratu Bulawambona. Buton sekarang masuk ke dalam Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kemudian ada uang yang bisa melengkung sendiri bila diletakkan di telapak tangan, karena uang ini mengandung fosfor, yang kalo kena suhu panas tubuh, maka uangnya akan melengkung sendiri. Ada lagi uang jaman perkebunan. Pada suatu ketika, setiap perkebunan mempunyai otoritas untuk memproduksi dan mengedarkan uang sendiri, dan sayangnya hanya beredar di wilayah mereka sendiri (waaah gak bisa dipake untuk liburan ke Bali dong!) uangnya bentuknya lucu, ada yang segi tiga, ada yang terbuat dari bahan bambu, tapi kebanyakan terbuat dari logam.

Lalu kalo mau merasakan denyut perdagangan rempah-rempah di Nusantara djaman doeloe, Museum BI ini masih ada lho koleksi aselinya, uang yang digunakan oleh orang-orang sejak Portugis datang. Oh ya jaman di masa awal-awalnya orang Portugis datang, uang yang dipakai adalah Real Spanyol, lantas pada jaman Belanda berkuasa, digantiin dengan Rijksdaalder. Nah dari nama mata uang Rijksdaalder, kita mengenal istilah: Dollar, karena ketika jaman itu, orang menyebutnya: daalder, daaldet, makanya orang Amerika akhirnya menyebutnya dollar.

Ingat, Amerika doeloe (terutama Pantai Timur-nya) masih menjadi koloni Belanda, dan ingat doeloe ada perjanjian antara Belanda dan Inggris di tahun 1667, ditandai dengan perjanjian Breda yang menyatakan bahwa Belanda membarter Pulai Run di Banda Neira dengan Pulau Nieuw Amsterdam (Manhattan) yang sekarang ada di New York sana!

Pada masa pemerintahan Inggris (1811-1816), uang yang berlaku adalah: Picis Jawa (kalo hari ini mengenal "roman picisan," itu karena doeloe banyak dijual karya tulis roman (novel) yang seharga satu picis, sepicis). Ada lagi uang "Kebijakan Gunting Syafruddin". Ini terjadi pada jamannya PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia), pada masa kekosongan di republik ini karena Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan ke Jogjakarta. Pada tahun-tahun ini, uang yang beredar banyak sekali, ada uang NICA (Netherland Indies Civil Administration), uang ORI (Oeang Republik Indonesia), uang ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah), karena pada jaman itu sulitnya distribusi uang ke daerah-daerah, maka daerahpun diperbolehkan untuk mencetak dan mengedarkan uang sendiri, walaupun untuk wilayah terbatas. Trus masih ada lagi Uang Pemerintahan Dai Nippon. Nah pada masa ini, terjadi inflasi yang sangat tinggi, maka diambillah kebijakan untuk menggunting uang yang bernilai 5 gulden ke atas oleh Syafruddin Prawiranegara.

Kelar ngobrol, kita ke arah luar belakang gedung museum ini guna menyiapkan diri untuk berbuka puasa bersama. Kebetulan letak mesjid ini persis di sebelahnya pondasi Tembok Kota Batavia yg sedang digali oleh para arkeolog.
Hmmm, pondasi ujung selatan Tembok Kota Batavia ini kalo saya duga, deket-deket sama sebuah pintu yang kini kita mengenalnya sebagai kawasan Pintu Kecil, karena doeloe terdapat sebuah pintu untuk masuk ke dalem kota yang telah dibentengi setelah kerusuhan sosial di tahun 1740. Nah, nama gerbang (pintu) ini adalah Gerbang Diest.

Gerbang Diest (Diestpoort) , dibangun pada tahun 1657, nama ini diambil dari rumah gardu Dietz (nama seorang bangsawan Nassau, yah ejaannya Dietz, bukan Diest...) yang terletak di sebelah timur sungai. Karena pintunya kecil, Diestpoort ini belakangan dikenal: Pintu Kecil. Doeloe, sebagai jalan masuk dan juga keluar kastil (tembok), disediakan empat pintu gerbang. Pada abad ke-17, jalan utama dari kastil ke wilayah pendalaman (ommelanden) hanya melalui timur laut, yaitu di depan Gereja Portugis Luar Kota (atau bahasa belandanya nih... Portugeesche Buiten Kerk), nah, itu sekarang adalah Gereja Sion! yang terletak di Jl. Pangeran Jayakarta.

Oke kembali ke cerita tentang Tembok Kota Batavia, karena doeloe hanya ada 1 pintu gerbang, kemudian dibuatkanlah beberapa gerbang di sekitar tembok ini, itu adalah: Rotterdam-poort yang ada terletak di bagian timur tembok (hm di sebelah kanannya Stasiun Jakarta Kota? yang mojok ke sungai?), di sebelah selatan ada Nieuw-poort. Dari gerbang selatan inilah muncul istilah Pintu Besar. Dan ada tahun 1652 dibangunlah pintu gerbang yang diberi nama: Utrechtsche poort, kerna doeloe ada jalan Utrechtstraat (sekarang bernama Jl.Kopi kayaknya), posisi pintu ini mengarah Barat, ke Kali Besar. ________________________________________

Bedank, makasih.....

jendela.jpg
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
My picture015.jpg
  
My picture016.jpg
  
My picture018.jpg
  
My picture006.jpg
  
My picture004.jpg
  
My picture005.jpg
  
My picture007.jpg
  
My picture008.jpg
  
My picture017.jpg
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
  


rosemanis wrote on Oct 3, '07
mba helga, aku suka juga jalan ke museum tapi belum nyampe di museum ini.tapi ngga banyak yang suka museum lho mba, didunia maya orang lebih suka yang santai aja, kasian deh ntar mba cape2 naruh disini, ngga ada yang liat lho. Aku terima kasih bisa liat di sini kesukaanku, tetap semangat ya mba helga, aku bangga lho masih ada yang cinta museum.
donkeysanmale wrote on Oct 3, '07
I can read the first line and recognise some of the names but I'm so ignorant Janine that I can't read the rest of your probably very interesting story. But as in many cases, pictures can tell more then thousand words can. These pictures give even the words too and also in English so my simple mind can read it. Thanks for sharing Janine and again, promoting your beautiful country.
Comment deleted at the request of the author.
helga134 wrote on Oct 3, '07
Thanks Dick for your comment and feel sory you could not understand with that story, yeah actually I put the redactional or information pictures..which also explain about any stuff in the museum, that information wrote in bilingual (indonesia and english)..but I think it still could not read because the size of picture too small...well, once again I have to apologise for this inconvenience...I promise will make this interesting story in english..

Well, so many old money in the museum which are put in a special room (used to be as the safety deposit room with a door of weight 20 ton and made in holland)...but I could not made a good pictures because the room is a little dark and we not allow to use light from camera...yeah, thats all the treasure of our anchestor...nice to know and history have advantage for us too especially respect the culture, life and also the differsity of human....hope you will come again when i already made in english...dank u well Dick, I appreciate all your kind attention...
yohanesss wrote on Oct 3, '07
Kapan-kapan ajak saya ke sana ya Yanine.
helga134 wrote on Oct 3, '07
thanks ya rose, sudah memberikan semangat dan comment disini...
helga134 wrote on Oct 3, '07
Dengan senang hati Yohanes...kapan ke Jakarta lagi? thanks udah mampir..
donkeysanmale wrote on Oct 5, '07
The pictures speak for themselves Janine; no need to translate the story just for me but thanks very much for your kind offer. It's good to have museums who can remind us of the past. History can teach us how it was and make us appreciate how good of a life we have now. With the postings you made lately, I can see that your background is in anthropology Janine. I'm already looking forward to the next.
helga134 wrote on Oct 5, '07
I can see that your background is in anthropology Janine. I'm already looking forward to the next.
Bedank Dick for gave a comment here, I am glad you like to know about museum as our most precious heritage...because mostly stuffs in the museums are come from the anchestor of Indonesian and Dutch peoples...well, I will try to translate here later because feel not satisfy if my friends from abroad could not enjoy it...

Talking about anthropology, actually museum is only a small part of the ethnology study, which search about old community or peoples value and norm...but anthropology can also search about the modern people..Well, there are still some informations from the last museum, i like to share..and will post in this weekend...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help